Pemasangan Rudal di Bundaran Jati Tuai Dukungan, Andi Halim Beri Apresiasi

IMG-20260124-WA0003

Ketua Umum LSM Penjara, Andi Halim

 

CIMAHI, SalZa News – Pemasangan ikon di kawasan Bundaran Jati, Kota Cimahi, sempat menuai perbincangan publik. Sebagian masyarakat sebelumnya mengusulkan agar ikon tersebut menampilkan unsur budaya, seperti patung pewayangan, sebagai upaya ngamumule budaya Sunda.

 

Namun kini, Pemerintah Kota Cimahi menetapkan ikon Bundaran Jati berupa alutsista militer, yakni tiga unit Rudal Rapier. Keputusan tersebut mendapat dukungan dari Ketua Umum LSM Penjara, Andi Halim.

 

Andi Halim mengapresiasi langkah Wali Kota Cimahi, Ngatiyana, yang menempatkan Rudal Rapier sebagai ikon kota. Menurutnya, Cimahi harus dilihat sebagai kota yang berpikir maju dan mencerminkan perkembangan zaman.

 

“Begini, saya ingin memberikan edukasi kepada masyarakat bahwa kita ini harus maju, bukan malah mundur. Sekarang ini zamannya teknologi, dan salah satu teknologi itu adalah rudal atau peluru kendali,” ujar Andi Halim.

 

Rudal Rapier, ikon baru Kota Cimahi

 

Ia menegaskan bahwa sejak lama Cimahi dikenal sebagai kota militer. Karena itu, ikon kota sudah seharusnya merepresentasikan identitas tersebut.

 

“Kenapa rudal harus dibikin ikonik sebagai Cimahi? Karena sejak dulu Cimahi ini memang kota militer. Dari zaman Jepang sudah jadi kawasan militer. Di sini ada 13 pusat pendidikan, ada batalyon, ada brigif. Itu ciri khas Cimahi,” katanya.

 

Menurut Andi, jika berbicara tentang ciri khas daerah, Cimahi tidak memiliki kekhasan kuliner yang menonjol. Oleh sebab itu, identitas sebagai kota militer justru menjadi kekuatan yang harus ditampilkan.

 

“Kalau ditanya ciri khas Cimahi apa, kulinernya juga tidak ada yang khas. Jadi satu-satunya ciri kuat Cimahi itu ya kota militer,” terangnya.

 

Ia menilai keberadaan ikon alutsista di ruang publik, seperti meriam, tank, maupun rudal, merupakan simbol kemajuan, bukan sesuatu yang perlu dipersoalkan.

 

“Kalau di depan kantor wali kota ada meriam, di Baros ada tank, dan di Bundaran Jati ada rudal, itu justru menunjukkan kemajuan. Saya melihat ini dari kacamata yang jernih sebagai satu bentuk kemajuan,” tegasnya.

 

Terkait usulan penggunaan ikon budaya seperti wayang, Andi menyatakan tidak menolak pelestarian budaya, namun menilai hal tersebut kurang tepat jika dijadikan ikon utama kota yang majemuk seperti Cimahi.

 

“Saya setuju budaya itu dipertahankan, bahasa Sunda harus dimumule. Tapi untuk ikon satu kota yang majemuk seperti Cimahi, harus mencerminkan kemajuan,” ucapnya.

 

Ia juga berpendapat bahwa wayang bukan sepenuhnya merepresentasikan identitas lokal Cimahi.

 

“Wayang itu budaya apa? Budaya Sunda? Wayang juga ada pengaruh dari India. Jadi jangan sampai pemikiran kita justru mundur,” jelasnya.

 

Lebih jauh, Andi menilai identitas Cimahi sebagai kota militer justru dapat menjadi daya tarik wisata tersendiri.

 

“Kalau orang datang ke Cimahi, di benaknya sudah ada ‘ini kota militer’. Itu bisa jadi daya tarik wisata dan harus ditingkatkan ke depan,” ujarnya.

 

Ia menambahkan, di tengah situasi global yang tidak menentu, pemikiran masyarakat juga harus visioner dan berorientasi masa depan.

 

“Sekarang situasi global tidak menentu. Kalau negara lain sudah pakai rudal dan drone, masa kita malah pakai panahnya Arjuna? Itu kan tidak benar. Kita harus maju dan punya pemikiran jauh ke depan,” pungkasnya.

(Sinta)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *